Singkatan Makalahku : Menelisik Ide Pluralisme?

23 05 2010

Beberapa waktu yang lalu, aku diberi amanah untuk membuat tulisan tentang kritik terhadap ide pluralisme. Memang bagi yang tidak paham “sejatinya” paham ini apa, pasti bilang pluralisme itu baik, bagus, harus dilestarikan, di-openi-(bahasa jawa), dan lain sebagainya… Tapi, mari kita simak hasil akhir tulisanku berikut ini:

Fakta Pluralisme
Pluralisme sering diartikan sebagai paham yg mentoleransi adanya ragam pemikiran, agama, kebudayaan, peradaban,  dll. Ide pluralisme ini didasarkan pada sebuah keinginan untuk melenyapkan “klaim kebenaran” (truth claim) yang dianggap memicu munculnya sikap ekstrim, radikal dan masalah-masalah perselisihan atas nama agama. Sehingga menurut para penganut paham pluralisme, masalah-masalah serta konflik dengan mengatasnamakan agama, baru akan sirna jika masing-masing agama tidak lagi menganggap agamanya yang paling benar.
Jika hanya masalah agama yang dianggap memicu permasalahan dalam masyarakat yang heterogen, tentu saja tidak benar, bahkan konflik yang terjadi di masyarakat seringkali ditimbulkan oleh sistem perpolitikan dan ideologi yang dianut masyarakat. Sebagai contoh faktanya adalah konflik yang terjadi di Ambon dan Poso lebih cenderung konflik tersebut bernuansa politik, yaitu disebabkan oleh campur tangan asing (tidak lain adalah barat) untuk melemahkan Indonesia yang mayoritas penduduknya adalah Muslim.

Kritik dari berbagai sudut pandang :
1. Secara Fitrah
Pluralisme sama sekali bertentangan dengan realitas agama itu sendiri. Apakah sama keyakinan muslim yang menjadikan Alloh saja sebagai Tuhan dengan keyakinan seorang katolik yang menyatakan bahwa ada Tuhan selain Alloh yang berwujud manusia seperti halnya Isa bin Maryam atau yang sering disebut Yesus?
Penyamarataan agama adalah bentuk pemaksaan terhadap sesuatu yang jelas-jelas tidak sesuai dengan fitrah akal dan kepuasan batin manusia.

2. Secara Normatif
Pluralisme agama bertentangan secara total dengan Aqidah Islamiyah. Sebab pluralisme agama menyatakan bahwa semua agama adalah benar. Jadi, Islam benar, Kristen benar, Yahudi benar, dan semua agama apa pun juga adalah sama-sama benar. Ini menurut Pluralisme. Adapun menurut Islam, hanya Islam yang benar (Qs. Ali-Imran [3]: 19), agama selain Islam adalah tidak benar dan tidak diterima oleh Allah SWT (Qs. Ali-Imran [3]: 85).
Jika ada kaum pluralis yang menggunakan Ayat-ayat Al-Qur’an, pasti mereka mengambil hanya sebagian ayat al-Qur’an saja dan meninggalkan sebagian lagi.

3. Secara Historis
paham pluralisme bukanlah dari umat Islam, tapi dari orang-orang Barat, yang mengalami trauma konflik dan perang antara Katolik dan Protestan, juga Ortodok. Misalnya pada 1527, di Paris terjadi peristiwa yang disebut The St Bartholomeus Day’s Massacre. Pada suatu malam di tahun itu, sebanyak 10.000 jiwa orang Protestan dibantai oleh orang Katolik. Peristiwa mengerikan semacam inlah yang lalu mengilhami revisi teologi Katolik dalam Konsili Vatikan II (1962-1965). Semula diyakini bahwa extra ecclesiam nulla salus (outside the church no salvation), tak ada keselamatan di luar gereja. Lalu diubah, bahwa kebenaran dan keselamatan itu bisa saja ada di luar gereja (di luar agama Katolik/Protestan). Jadi, paham pluralisme agama ini tidak memiliki akar sosio historis yang genuine dalam sejarah dan tradisi Islam, tapi diimpor dari setting sosio historis kaum Kristen di Eropa dan AS.

Penutup
Secara politis, wacana pluralisme agama dilancarkan di tengah dominasi kapitalisme yang Kristen, atas Dunia Islam. Maka dari itu, arah atau sasaran pluralisme patut dicurigai dan dipertanyakan jika pluralisme tujuannya adalah untuk menumbuhkan hidup berdampingan secara damai, toleransi, dan hormat menghormati antar umat beragama. Menurut Amnesti Internasional, AS adalah pelanggar HAM terbesar di dunia. Sejak Maret 2003 ketika AS menginvasi Irak, sudah 100.000 jiwa umat Islam yang dibunuh oleh AS. Jadi, pertanyaannya, mengapa bukan AS yang menjadi sasaran penyebaran paham pluralisme? Mengapa umat Islam yang justru dipaksa bertoleransi terhadap arogansi AS? Bukankah AS yang sangat intoleran kepada bangsa dan umat lain, khususnya umat Islam? Mengapa umat Islam yang justru dipaksa ramah, tersenyum, dan toleran kepada AS, padahal justru umat Islamlah yang menjadi korban hegemoni AS yang biadab, kejam, brutal, sadis, dan tak berperikemanusiaan?
Dari tersebut diatas, kiranya dapat dipetik suatu kesimpulan yang berharga, bahwa ide pluralisme agama wajib ditolak. Sebab ide tersebut bertentangan secara fitrah akal dan secara normatif dengan Aqidah Islam, tidak orisinal alias palsu karena tumbuh dalam setting sosio historis Barat, dan membahayakan umat Islam secara politis, karena akan membius umat agar tidak sadar telah diinjak-injak oleh hegemoni AS.
Tujuan akhir dari konsep pluralisme agama sangat mudah dibaca, yaitu agar umat Islam hancur Aqidahnya, sehingga hegemoni kapitalisme yang kafir atas Dunia Islam semakin paripurna dan total.

*) Dikutip dari berbagai sumber.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: