Filsafat Ilmu: Aliran Berpikir Positivistik dan Post Positivistik

25 06 2016

Logika Positivistik adalah aliran berpikir yang hanya mengakui kebenaran rasional, empirik, inderawi, objektif. Logika Positivistik mengandalkan kemampuan pengamatan secara langsung (empiris) penalaran yang digunakan induktif.  Logika positivistik terilhami dari gerakan keilmuan masa modern, yang mengharuskan adanya kepastian dalam suatu kebenaran. Syarat objek ilmu yaitu dapat: diamati (observable), diulang-ulang (repeatable), diukur (measurable), diuji (testable), diramalkan (predicable). Penelitiannya berpusat pada eksperimen data-data particular, dan ditafsirkan oleh rasio, dan pengalaman. Maka sangat jelas bahwa logika positivistik membangun pembuktian berdasarkan fakta tanpa interverensi kepentingan subjektivitas manusia.

Kebenaran yang dianut logika positivistik dalam mencari kebenaran adalah teori korespondensi. Teori korespondensi menyebutkan bahwa suatu pernyataan adalah benar jika terdapat fakta-fakta empiris yang mendukung pernyataan tersebut. Atau dengan kata lain, suatu pernyataan dianggap benar apabila materi yang terkandung dalam pernyataan tersebut bersesuaian (korespodensi) dengan obyek faktual yang ditunjuk oleh pernyataan tersebut.

Positivistik menawarkan kepada pencari pengetahuan untuk berusaha mencari kebenaran yang berbeda sehingga muncul pemikiran-pemikiran baru.

Dalam logika positivistik ada filsafat hermeneutik dan phenomenologi sebagai dasarnya.

Filsafat Hermeneutik (the art of understanding) adalah salah satu jenis filsafat yang mempelajari tentang interpretasi makna, yaitu ilmu yang mempelajari arti daripada fenomena. Hermeneutika menyediakan satu set konsep yang membantu para peneliti untuk memahami teks.

Filsafat Fenomenologi adalah sebuah studi dalam bidang filsafat yang mempelajari manusia sebagai sebuah fenomena. Ilmu fenomonologi dalam filsafat seringkali dihubungkan dengan ilmu hermeneutik. fenomenologi adalah suatu tradisi pengkajian yang digunakan untuk mengeksplorasi pengalaman manusia. Fenomenologi adalah suatu tradisi untuk mengeksplorasi pengalaman manusia. Dalam konteks ini ada asumsi bahwa manusia aktif memahami dunia disekelilingnya sebagai sebuah pengalaman hidupnya dan aktif menginterpretasikan pengalaman tersebut. Asumsi pokok fenomenologi adalah manusia secara aktif menginterpretasikan pengalamannya dengan memberikan makna atas sesuatu yang dialaminya. Oleh karena itu interpretasi merupakan proses aktif untuk memberikan makna atas sesuatu yang dialami manusia. Dengan kata lain pemahaman adalah suatu tindakan kreatif, yakni tindakan menuju pemaknaan.

Contoh praksisnya pada metodologi penelitian kualitatif :

Dalam penelitian kualitatif, proses pengumpulan data harus melalui beberapa tahapan yang setiap tahapan tersebut saling terkait anatar satu sama lain. Contoh penggunaan fenomenologi adalah saat melakukan identifikasi Subjek/Partisipan penelitian, kemudian  menentukan jenis data yang akan dicari/diperoleh. Pengumpulan data melalui wawancara, observasi, studi dokumentasi dan lain sebagainya. Terdapat beberapa hal yang perlu diingat dalam pengumpulan data untuk penelitian kualitatif, yaitu; umumnya penelitian dilakukan lebih dari satu kali, dalam melakukan pengumpulan data selalu disesuaikan dengan situasi alamiah, dan perlunya melakukan probing terhadap symbol. Probing adalah proses eksplorasi lebih dalam terhadap suatu hal yang dirasa perlu untuk diungkap.

kemudian data diverifikasi dan divalidasi. Setelah itu dilakukan analisa statistik sehingga menghasilkan data yang kemudian diterjemahkan menggunakan Filsafat Hermeneutik untuk menarik sebuah kesimpulan.

Logika Postpositivistik merupakan aliran yang ingin memperbaiki kelemahan-kelemahan positivisme, yang hanya mengandalkan kemampuan pengamatan langsung terhadap objek yang diteliti. Logika Post-Positivistik adalah aliran berpikir yang memandang bahwa realitas memang ada dalam kenyataan sesuai dengan hukum alam, tetapi satu hal yang mustahil bila suatu realitas dapat dilihat secara benar oleh manusia (peneliti). Oleh karena itu, secara metodologis pendekatan eksperimental melalui observasi tidaklah cukup, tetapi harus menggunakan metode triangulation yaitu penggunaan bermacam-macam metode, sumber data, peneliti dan teori.

Positivistik menawarkan kepada pencari pengetahuan untuk memahami fakta yang ada menjadi pemikiran mereka.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: