Tulisan Istriku : Globalisasi

27 05 2010

Apa itu Globalisasi?

Ga papa ya, sekali ini kita ngomongin globalisasi, gak perlu dengan kening berkerut kog. Cukup buka mata n buka pikiran aja Ok! Globalisasi! Bagaikan air laut, semua air yang di daratan mengalir ke sana. Demikian juga semua ranah kehidupan akan di bawa ke globalisasi. Mahasiswa yang skripsi, para intelektual yang menulis makalahnya, bahkan para pengusaha yang memulai presentasi dengan koleganya, semua menuju satu pusat yakni globalisasi. Seakan-akan globalisasi itu sebuah target yang pasti dicapai atau bahkan sudah merupakan hukum alam yang wajib dipersiapkan.
Apa sih global berakhiran isasi itu? Ada tiga hal berkenaan dengan globalisasi yang mesti kita ketahui:

Globalisasi sebagai fenomena ekonomi

Globalisasi ekonomi dicirikan dengan adanya pasar bebas (harga ditentukan oleh para pemilik modal), privatisasi asset (badan usaha negara dijual kepada swasta), pengurangan peran negara (dalam kesejahteraan rakyat), persebaran teknologi, dan penanaman modal asing.

Globalisasi sebagai hegemoni nilai-nilai Amerika

Globalisasi ditandai dengan dianutnya nilai-nilai liberalisme (kebebasan), demokrasi, dan sekulerisme (memisahkan agama dari kehidupan) dalam kehidupan masyarakat.

Globalisasi sebagai revolusi teknologi dan sosial

Ciri yang ketiga ini bisa dilihat dengan adanya keterjalinan teknologi lintas batas negara.
Globalisasi yang sering digambarkan terkesan wah, persaingan ekonomi makin tak terbatas, kebebasan makin dijunjung tinggi, dan perkembangan teknologi demikian pesat. Abad 21 memang perjalanan hidup manusia yang menjanjikan semuanya serba mudah dan serba terjangkau. But, we must know, what is in the real globalizm?

Globalisasi adalah sebuah pemikiran ideologi Kapitalisme yang universal (menyeluruh) dan meliputi seluruh aspek kehidupan. Globalisasi adalah serangan total yang sangat ganas dan mematikan yang dilakukan peradaban kapitalis terhadap masyarakat seluruh pelosok dunia, terutama kaum muslimin. Kata globalisasi itu sendiri diambil dari kata global yang berarti universal jadi maksudnya adalah universalisasi ideologi kapitalisme atau menjadikan ideologi kapitalisme menjadi satu-satunya ideologi di dunia.

What is Kapitalizm? Hehehe, meski bukan mahasiswa fisipol, kita kudu tau lho istilah-istilah politik ini, kalau lola kita bakal dipolitikin orang lain. ~_~. Kapitalisme adalah ideologi dan sistem yang lahir dari doktrin sekuler yang diadopsi Eropa setelah runtuhnya kekuasaan gereja dalam arena politik. Disebut kapitalisme karena ketika diterapkan ideologi ini, akan muncul para kapital (pemilik modal) yang akan menguasai perekonomian.

Konsep yang lain dari ideologi ini adalah sekulerisme (pemisahan agama dari kehidupan) dan liberalisme (menjunjung tinggi kebebasan manusia). Diantara kebebasan itu adalah kebebasan dalam beragama, berpendapat, kepemilikan, dan kebebasan individu.

Fakta globalisasi hendaknya tidak dilihat hanya sebelah mata. Dengan globalisasi, negara-negara berkembang akan menjadi sasaran privatisasi aset-aset kekayaan negara. Contohnya saja blok Cepu, PT Freeport di Papua, dll yang kini dimiliki asing, ini sangat merugikan negara kita. Perusahaan dalam negeri pun akan gulung tikar karena perusahaan multinasional/ transnasional akan menguasai perekonomian dunia. Orang bilang globalisasi membawa alih teknologi kepada setiap negara yang ikut bermain, tapi realitas membantahnya teknologi sama sekali tidak mengglobal, teknologi semakin terkonsentrasi di tangan pihak-pihak yang berkuasa. Sekitar 90 % paten dunia dalam teknologi berada di tangan negara-negara kaya dan sangat dilindungi oleh perjanjian TRIPs buatan WTO. Jika Indonesia turut andil dalam globalisasi ini, maka tak diragukan lagi bahwa masa depan Indonesia akan tergadaikan.

Globalisasi juga akan membawa manusia pada kebebasan yang tidak terbatas, kebebasan berpendapat dan bertingkah laku bukannya membawa pada kebaikan justru sebaliknya. Mau bukti? Akibat kebebasan ini perilaku manusia makin tak terkendali, aturan yang dibuat hanya untuk melampiaskan nafsu manusia, perilaku amoral dan menyimpang makin menjadi hal yang sering kita jumpai. Globalisasi hanya akan membuat nilai-nilai luhur manusia tenggelam dan tergantikan dengan perilaku yang menyerupai binatang. Sex bebas, ambisi yang menghalalkan segala cara, pembunuhan, dan membuang aturan agama dari kehidupan.

Globalisasi merupakan alat negara-negara barat kapitalis untuk mengejar keuntungan dan self-interest mereka. Keuntungan itulah yang menjadi driving force bagi segala tindakan mereka dan mengendalikan kebijakan luar negeri mereka. Sebetulnya bila globalisasi adalah semata-mata perdagangan dan investasi antarnegara, maka aktivitas ekonomi semacam ini secara prinsip akan disambut baik oleh negara manapun di dunia. Tapi yang menjadi persoalan bagi kita adalah karakter jahat dari globalisasi dan model ekonominya yang menyetir globalisasi seperti yang kita saksikan dan alami sekarang. Ketika kita menolak globalisasi bukan berarti kita menolak perdagangan dan investasi, tetapi menolak kebijakan-kebijakan ekonomi yang menimbulkan kesengsaraan dan penderitaan serta menolak ideologi yang menciptakannya yakni Kapitalisme.

Kalau kita berbicara masalah ideologi (pandangan hidup yang memuat aturan tentang seluruh aspek kehidupan), tak ada ideologi yang layak dijadikan pedoman selain ideologi Islam. Kapitalisme jelas menimbulkan kesengsaraan, selain itu ada ideologi Komunisme yang pernah berjaya semasa pemerintahan negara Unisovyet yang sekarang telah runtuh, ini juga tak berhasil menyelesaikan masalah kehidupan manusia. Ideologi Islam satu-satunya ideologi yang rasional dan sesuai fitrah manusia memuat seluruh aturan kehidupan dari konsep ekonomi, sosial, pendidikan, politik, hukum, dsb. Ideologi ini pernah diterapkan semasa nabi Muhammad SAW hingga pemerintahan kekhilafahan Turki Utsmani. Sepanjang sejarah penerapan ideologi Islam, umat berjaya, maju ekonominya, luas wilayah kekuasaannya, tinggi ilmu dan teknologinya, serta luhur akhlak masyarakatnya. Maka sudah saatnya mengembalikan ideologi Islam di tengah-tengah umat untuk menjawab berbagai permasalahan selama ini. Sekali lagi bukan globalisasi yang menjadi muara sendi-sendi kehidupan kita, tetapi kembali pada ideologi Islam yang telah terbukti menerangi umat selama hampir 13 abad. Siapa lagi yang bisa mewujudkannya? Umat membutuhkan usahamu untuk itu! ^_^
~by: fafi~
Sumber bacaan yang bisa kamu liat:
M. Ramdhan Ali. 2005. Globalisasi: Skenario Mutakhir Kapitalisme. Bogor: Al Azhar Press.





Singkatan Makalahku : Menelisik Ide Pluralisme?

23 05 2010

Beberapa waktu yang lalu, aku diberi amanah untuk membuat tulisan tentang kritik terhadap ide pluralisme. Memang bagi yang tidak paham “sejatinya” paham ini apa, pasti bilang pluralisme itu baik, bagus, harus dilestarikan, di-openi-(bahasa jawa), dan lain sebagainya… Tapi, mari kita simak hasil akhir tulisanku berikut ini:

Fakta Pluralisme
Pluralisme sering diartikan sebagai paham yg mentoleransi adanya ragam pemikiran, agama, kebudayaan, peradaban,  dll. Ide pluralisme ini didasarkan pada sebuah keinginan untuk melenyapkan “klaim kebenaran” (truth claim) yang dianggap memicu munculnya sikap ekstrim, radikal dan masalah-masalah perselisihan atas nama agama. Sehingga menurut para penganut paham pluralisme, masalah-masalah serta konflik dengan mengatasnamakan agama, baru akan sirna jika masing-masing agama tidak lagi menganggap agamanya yang paling benar.
Jika hanya masalah agama yang dianggap memicu permasalahan dalam masyarakat yang heterogen, tentu saja tidak benar, bahkan konflik yang terjadi di masyarakat seringkali ditimbulkan oleh sistem perpolitikan dan ideologi yang dianut masyarakat. Sebagai contoh faktanya adalah konflik yang terjadi di Ambon dan Poso lebih cenderung konflik tersebut bernuansa politik, yaitu disebabkan oleh campur tangan asing (tidak lain adalah barat) untuk melemahkan Indonesia yang mayoritas penduduknya adalah Muslim.

Kritik dari berbagai sudut pandang :
1. Secara Fitrah
Pluralisme sama sekali bertentangan dengan realitas agama itu sendiri. Apakah sama keyakinan muslim yang menjadikan Alloh saja sebagai Tuhan dengan keyakinan seorang katolik yang menyatakan bahwa ada Tuhan selain Alloh yang berwujud manusia seperti halnya Isa bin Maryam atau yang sering disebut Yesus?
Penyamarataan agama adalah bentuk pemaksaan terhadap sesuatu yang jelas-jelas tidak sesuai dengan fitrah akal dan kepuasan batin manusia.

2. Secara Normatif
Pluralisme agama bertentangan secara total dengan Aqidah Islamiyah. Sebab pluralisme agama menyatakan bahwa semua agama adalah benar. Jadi, Islam benar, Kristen benar, Yahudi benar, dan semua agama apa pun juga adalah sama-sama benar. Ini menurut Pluralisme. Adapun menurut Islam, hanya Islam yang benar (Qs. Ali-Imran [3]: 19), agama selain Islam adalah tidak benar dan tidak diterima oleh Allah SWT (Qs. Ali-Imran [3]: 85).
Jika ada kaum pluralis yang menggunakan Ayat-ayat Al-Qur’an, pasti mereka mengambil hanya sebagian ayat al-Qur’an saja dan meninggalkan sebagian lagi.

3. Secara Historis
paham pluralisme bukanlah dari umat Islam, tapi dari orang-orang Barat, yang mengalami trauma konflik dan perang antara Katolik dan Protestan, juga Ortodok. Misalnya pada 1527, di Paris terjadi peristiwa yang disebut The St Bartholomeus Day’s Massacre. Pada suatu malam di tahun itu, sebanyak 10.000 jiwa orang Protestan dibantai oleh orang Katolik. Peristiwa mengerikan semacam inlah yang lalu mengilhami revisi teologi Katolik dalam Konsili Vatikan II (1962-1965). Semula diyakini bahwa extra ecclesiam nulla salus (outside the church no salvation), tak ada keselamatan di luar gereja. Lalu diubah, bahwa kebenaran dan keselamatan itu bisa saja ada di luar gereja (di luar agama Katolik/Protestan). Jadi, paham pluralisme agama ini tidak memiliki akar sosio historis yang genuine dalam sejarah dan tradisi Islam, tapi diimpor dari setting sosio historis kaum Kristen di Eropa dan AS.

Penutup
Secara politis, wacana pluralisme agama dilancarkan di tengah dominasi kapitalisme yang Kristen, atas Dunia Islam. Maka dari itu, arah atau sasaran pluralisme patut dicurigai dan dipertanyakan jika pluralisme tujuannya adalah untuk menumbuhkan hidup berdampingan secara damai, toleransi, dan hormat menghormati antar umat beragama. Menurut Amnesti Internasional, AS adalah pelanggar HAM terbesar di dunia. Sejak Maret 2003 ketika AS menginvasi Irak, sudah 100.000 jiwa umat Islam yang dibunuh oleh AS. Jadi, pertanyaannya, mengapa bukan AS yang menjadi sasaran penyebaran paham pluralisme? Mengapa umat Islam yang justru dipaksa bertoleransi terhadap arogansi AS? Bukankah AS yang sangat intoleran kepada bangsa dan umat lain, khususnya umat Islam? Mengapa umat Islam yang justru dipaksa ramah, tersenyum, dan toleran kepada AS, padahal justru umat Islamlah yang menjadi korban hegemoni AS yang biadab, kejam, brutal, sadis, dan tak berperikemanusiaan?
Dari tersebut diatas, kiranya dapat dipetik suatu kesimpulan yang berharga, bahwa ide pluralisme agama wajib ditolak. Sebab ide tersebut bertentangan secara fitrah akal dan secara normatif dengan Aqidah Islam, tidak orisinal alias palsu karena tumbuh dalam setting sosio historis Barat, dan membahayakan umat Islam secara politis, karena akan membius umat agar tidak sadar telah diinjak-injak oleh hegemoni AS.
Tujuan akhir dari konsep pluralisme agama sangat mudah dibaca, yaitu agar umat Islam hancur Aqidahnya, sehingga hegemoni kapitalisme yang kafir atas Dunia Islam semakin paripurna dan total.

*) Dikutip dari berbagai sumber.